Ayo ditata lagi niatnya yaa.
Sebelumnya, mungkin saya tidak tertarik mengomentari panjang tentang opini seseorang karna semua individu memiliki sudut pandangnya tersendiri, tapi ini beda.
Seorang mahasiswa tingkat akhir ditanya junior , " niatmu apa lho jadi dokter?"
"Yaa prestige"
Mas senior tolong yaa, ratusan bahkan ribuan orang rela melakukan apa saja demi duduk di posisimu saat ini, tenaga iya, waktu panjang, pikiran, bahkan ratusan juta dikeluarkan hanya untuk hal yang kamu anggap hanya "prestige".
Sekali lagi, yg berada pada tanggungjawab besarmu itu nyawa, tidak akan pernah kembali jika salahmu fatal, okay toleransi kalo ga mati ya resisten, sama aja kan mati perlahan.
Nanti, setelah kamu mendapatkan apa itu "prestige" , "pujian" , lalu apa lagi?
Tolong ditata lagi niatnya siapapun diluar sana yg mengatas namakan nyawa pasien diatas kepentingan anda.
Berselimut jas putih untuk masyarakat tidak berarti apa2, karena sejatinya sumpah profesi adalah bentuk pengabdian dan legalitasmu pada rakyat.
Senin, 23 Mei 2016
Diatas nama kepentingan
Rabu, 13 Januari 2016
Syukur
Aku memandang lekat-lekat catatan yang selama ini kubawa kemanapun ku pergi, entah kuliah atau hanya sekedar mengunjungi pusat perbelanjaan.
Pelupa. Salah satu kelemahan terbesarku, untuk itu menulis adalah andalanku.
Kadang coretan pena jadwal biasa ada di list, perjanjian rapat atau bertemu seseorang, catatan keuangan bulanan juga apa saja yg menjadi prioritas pembelian, atau sebagai salah satu anggota panitia di salah satu acara aku pun menyertakan sebagian tanggungjawabku pada teman setiaku satu ini.
Namun, ada yg berbeda hari ini pada lembar kertas terakhir.
Kami (aku,ical,cam), membuat kesepakatan bertemu dosen wali.
Jum.at menjadi pilihan hari yang kami ajukan untuk pertemuan tersebut, tetapi nyatanya beliau akan mengunjungi sebuah conference di Manila pada waktu yang sama.
Jadilah, rabu tertanggal 15 januari 2016. Minggu kedua tahun baru kami mengunjungi beliau.
Salah ruangan!
Oh yaa, lumayan terkejut "bapak" kedua kami di kampus ternyata menjadi kepala departemen saat ini. Amanah luar biasa di tahun baru untuk memberikan dasar kuat pada adik tingkat yang di prakarsai oleh beliau.
Setelah memberi selamat, mulailah perbincangan kami.
Seperti biasa, hal-hal ringan menjadi pembuka.
Sampailah detik dimana beliau bertanya sampai berapa lama liburan kuliah kami?
Dua bulan bukan waktu yang singkat memang untuk hanya bersantai dirumah, sama sekali tidak produktif dan menumpulkan konduksi sebagian saraf.
Satu persatu dari kami menjawab apa yang menjadi program liburan, ada yang sibuk mengurus penelitian, pulang kampung, dsb. Dan terakhir, aku.
Sebenarnya dalam benak ini ada ribuan rencana mengisi hari libur.
Membuat proposal penelitian, menyelesaikan halaman blog, mengajukan berkas pendanaan, mengajar, belajar bekerja, dan terakhir melancarkan bahasa asing.
Aku sadar betul, bahasa sangat penting sebagai penunjang karir, bahkan hanya untuk kepentingan curhat pun, ini menjadi bagian yang sangat vital.
Beliau menyarankan itu juga.
Pada titik yang sama.
Gelombang lain muncul.
Bagaimana? Apakah sudah ada gambaran ke depan mau kemana?
Ah ini lah yg paling kurisaukan, seringkali aku takut membayangkan masa depan. Bagaimana kira2 jadinya aku 5-10 tahun mulai dari sekarang?
Rasanya apa yg kulakukan sampai hari ini belum cukup untuk mempersiapkannya.
Aku ragu hanya menjadi imitasi di suatu instansi. Melakukan yang bukan diriku disana, sehingga lelah jadi alasan utama.
Tuhanku, tujuan hidupku hanyalah mengharap ridho-Mu dengan cara apapun itu. Tunjukkanlah jalan untuk mengenal-Mu melalui jalur orbitku. Sehingga yang ada hanya syukur,syukur, dan syukur padaMu.
Rabu, 06 Januari 2016
Sandiwara pelangi #3
Ini apa sih !
Ada yang aneh tapi entah apa.
Ada yang salah tapi sepertinya baik-baik saja.
Bastien selalu membuatku merasa seperti ini jika bepergian.
Sepanjang sore itu aku bersamanya, dimulai dari M&V department store.
"Bagaimana menurutmu baggy pants ini di badanku chan ?" tanya pria jangkung berambut pirang bastien
Aku hanya mengatakan "cocok" untuk kesekian kalinya sembari terus cekikikan. Dalam hati ingin sekali mengomentarinya, bempernya yg begitu slim terlihat mengembang bagai marshmallows .
"Kau serius sedikit dong chan, aku begitu terpesona dengan model '90 an ini, tidak sadar kah kau ini. Dasar. Tapi aku tak akan memaksa jika memang tak pantas, maka dari itu guna kau kuajak kesini. Bukan untuk menertawakanku. Kau tau tidak!"
-be continued-