Je me souviens

Kamis, 31 Agustus 2017

Kesuksesan

Apa arti kesuksesan?
Banyak definisi sukses menurut sebagian besar orang, mapan dalam arti pekerjaan tetap kah? Jadi PNS kah? Atau pegawai BUMN? Gaji bulanan ditambah tunjangan remonisasi? Atau memiliki pencapaian atas cita-cita kah? Atau justru kesuksesan dikaitkan dengan kebahagiaan dan ketenangan hati?
Beragam memang dan itu bukan sesuatu yang salah. Setiap orang berhak mendefinisikan kesuksesannya masing - masing.
Sering sekali melihat sosok inspiratif menjadikan saya belajar mengenai arti sederhana kesuksesan yang pasti tidaklah mudah, tidaklah sesederhana pemikiran, terkadang hanya melihat hasil dari pencapaian seseorang, namun jauh dibalik itu semua pasti ada jalan berliku, kesusahan, tangis, peluh, doa, caci maki, diremehkan, dan doa orang - orang yg dicintai.
Ada sosok Erik Soekamti, vocalist dari band bergenre rock. Masa lalu nya sebagai siswa salah satu sekolah kejuruan musik tidak tamat. Kecintaan Erik dalam hal bermusik menjadikannya musisi didalam band besar Endank Soekamti, selama 16 tahun berkiprah di dunia hiburan menjadikan ia sadar banyak sekali orang - orang dibelakangnya. Berlatar belakang pendidikan dan orang banyak di sekeliling nya, Erik tergugah membuat terobosan. DOES UNIVERSITY atau Diary of Erix Soekamti adalah sebuah program di kanal Youtube mengenai keseharian, kegiatan, dan pemikiran  Erix Soekamti.
Mempunyai fan based yang besar, membuat lelaki yang satu ini memutar otak bagaimana caranya dapat mewujudkan mimpi anak-anak muda berbakat diluar sana melalui sekolah animasi gratis.
 “Sekolah yang ngajarin (apa) yang kamu suka, Yang kamu suka (kemudian) menjadi sebuah profesi,” ujar Erix dalam salah satu diarinya.
“Target (DOES University) dalam waktu 4 bulan belajar, dia (peserta didik) harus menjadi professional dan punya karya. Lalu bulan kelima harus sudah mulai bekerja,” tambah Erix.
Tak hanya bertujuan mulia, menurut Erix, DOES University merupakan ‘dendam pribadi’ yang ingin ia lakukan.
“Dulu waktu SMA aku ambil Sekolah Kejuruan Musik karena dulu suka sekali bass. Saat dites, disarankan guru lain untuk serius di alat musik lain. Guru itu lupa menanyakan aku suka atau gak,” ungkap Erix.
“Jadinya aku seperti menipu diri sendiri. Belajar dua tahun tanpa alat musik yang tidak disuka jadinya mentok. Akhirnya aku berhenti sekolah. Bukan berontak terhadap sekolah, tapi aku ingin tekuni bakatku,” tambah Erix.
Ia percaya bahwa apa yang diperjuangkannya untuk menjadi seorang bassis itu tidak salah, karena sampai sekarang Erix hidup dari profesinya sebagai bassis di Endank Soekamti.
Oleh karena itu, ia bercita-cita ingin punya sekolah yang siswanya bebas belajar apa saja yang mereka inginkan.
Komunitas menjadi modal dasar bagi DOES University untuk berjalan. Menurut Erix, jika tidak ada Kamtis Family, ia mungkin akan kebingungan untuk menjual produk kreatif DOES University.
Sosok inspiratif lainnya Pak Dimin, seorang atlet bla bla yang kini menjadi pelatih renang kaum difabel. Melatih renang untuk orang-orang berkebutuhan khusus adalah bentuk pengabdian pada sesama dan negara. Melalui olahraga ini, kaum difabel yang tadinya hidup terpinggirkan dapat memperoleh penghargaan, bahkan mengukir prestasi di berbagai kejuaraan dunia.
Bagi Dimin BA (73), melatih renang untuk orang-orang berkebutuhan khusus adalah bentuk pengabdian pada sesama dan negara. Melalui olahraga ini, kaum difabel yang tadinya hidup terpinggirkan dapat memperoleh penghargaan, bahkan mengukir prestasi di berbagai kejuaraan dunia.
Dimin adalah pelatih renang di kolam Tirtomoyo, Jebres, Solo. Sejak 2004, Komite Paralimpik Nasional (NPC) menunjuk dia sebagai pelatih renang atlet dengan kebutuhan khusus. "Rasanya bahagia membantu orang lain sukses," ujar Dimin seusai menerima penghargaan dan bonus dari Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi di Jakarta, awal Juni lalu.
Dimin sukses membawa para perenang Indonesia mengumpulkan 17 medali emas, 17 perak, dan 16 perunggu pada kegiatan multicabang ASEAN Para Games Singapura 2015.
Setahun sebelumnya, juga di bawah bimbingan Dimin, renang bahkan menjadi lumbung prestasi tim "Merah Putih" dengan menyabet 36 emas, 16 perak, dan 12 perunggu. Saat itu Indonesia menjadi juara umum ASEAN Para Games Naypyidaw 2014.
Melihat dan mendengar berbagai hal yang mereka lakukan membuat hati bergetar, selama 22 hampir 23 tahun ini apa yg sudah saya lakukan, apa yg sudah saya perjuangkan, untuk siapa, diri sendirikah atau untuk kemaslahatan banyak orang kah. Saya malu. Rasanya gelar berderet tapi belum bisa banyak bermanfaat.
Merinding bukan dengar kisah - kisah luar biasa sosok inspiratif ini? Dosen saya, dr Agus Ali Fauzi spesialis paliatif selalu mengatakan kejarlah kebahagiaan nuranimu, tolonglah sesamamu, belajarlah dari mereka, maka materi akan mengikuti dan kebahagiaan hatimu akan kekal.
Jadi, sukses menurut pemahamanku kembali pada tujuan hidup yaitu حَبْلٌ مِّنَ اللهِ (hablum minallah) dan   حَبْلٌمِّنَالنَّاسِ (hablum minannas), beribadah kepada Allah dan Rasul, serta bermanfaat untuk orang lain. Lalu apa sukses menurut definisi mu? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar